PANTUN SAHUR DALAM SASTRA LISAN BANDA NEIRA

Eca Wongsopatty

Abstract


ABSTRAK

 

Pantun sahur adalah salah satu sastra lisan yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat Banda. Pantun sahur merupakan nyanyian yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa tana pada saat bulan puasa. Bahasa tana adalah sebutan untuk bahasa daerah di Banda. Pantun sahur selalu menjadi bagian terpenting dalam menjalankan ibadah puasa bagi umat islam. Pantun sahur menyimpan banyak nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur. Kajian-kajian untuk mengungkap makna dalam pantun sahur untuk didiskusikan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian sastra lisan pantun sahur dan menambah pengetahuan terkait makna yang terkandung dalam pantun tersebut. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba untuk mengkaji bagaimana sastra lisan Pantun Sahur yang terdapat di Banda Neira. Kajian ini menggunakan pendekatan hermeneutika dan menggunakan analisis isi untuk melihat makna dalam pantun sahur tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada 9  pantun sahur yang menggunakan bahasa daerah Banda. Pantun sahur tersebut merupakan jenis pantun agama yang memiliki nilai religi yang mengandung maksud ajakan, larangan, dan peringatan bagi umat manusia. Oleh karena itu pantun sahur menjadi salah satu media komunikasi lisan yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banda.

Kata Kunci: pantun sahur, sastra lisan, banda neira

 

PENDAHULUAN

Karya sastra mencerminkan kehidupan dan peristiwa pada masa lampau. Melalui karya sastra, riwayat kehidupan para leluhur diwariskan sehingga diketahui oleh generasi yang hidup pada masa kini agar dijadikan sebagai pedoman atau kiblat untuk menata masa depan. Sayangnya, sekarang ini banyak yang menganggap bahwa karya sastra hanyalah hasil imajinasi dan penciptaan pengarang yang memuat tentang khayalan dan kebohongan semata. Padahal, karya sastra seperti cerita rakyat, nyanyian, dan pantun-pantun tradisional merupakan bentuk-bentuk karya sastra yang dahulunya pun telah dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan dan pewarisan cerita sejarah. Banyak hal tentang nilai, norma, dan kehidupan para leluhur pada zaman dahulu dapat diketahui dari bentuk-bentuk karya sastra tersebut.

Salah satu sastra lisan yang hidup dan berkembang di banda neira adalah pantun sahur. Pantun sahur adalah nyanyian masyarakat Banda dengan menggunakan bahasa daerah/ bahasa tana. Pada umumnya pantun sahur dan maknanya hanya diketahui atau dikuasai oleh tetua kampung saja. Sangat disayangkan karena sebagian besar masyarakat khususnya generasi muda tidak mengetahui tentang isi dan arti dari pantun tersebut. Tidak dapat dimungkiri bahwa akan terjadi kepunahan jika hal ini secara terus menerus terjadi. Untuk itu, kajian dan penelitian guna mencari makna yang tersimpan dalam pantun sahur sangat diperlukan. Pengetahuan generasi muda tentang arti dari teks-teks pantun sahur dapat dijadikan sebagai pewarisan nilai-nilai dan sebagi proses pewarisan agar tidak tertimpa kepunahan juga dapat dijadikan sebagai suatu acuan atau pedoman bagi generasi muda untuk lebih mengenal dan mengetahui identitas diri dan daerah. Hal tersebut sangat penting guna menumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap adat dan budaya banda neira yang semakin hari semakin memprihatinkan terutama di kalangan generasi muda sebagai tradisi dan daerah budaya Banda.

 

Berdasarkan masalah diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pertama; bagaimanakah pantun sahur dalam sastra lisan Banda Neira? kedua; Apa fungsi dan makna pantun sahur dalam sastra lisan Banda Neira? Sejalan dengan rumusan masalah tersebut tulisan ini bertujuan untuk mengkaji fungsi dan makna pantun sahur dari Banda Neira.

Tulisan ini diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat tentang pelestarian sastra daerah, salah satunya adalah pantun sahur. Pantun sahur tidak hanya dilantunkan pada saat bulan ramadan semata namun dapat dipahami dan dimengerti arti dan maknanya sehingga dalam kehidupan sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai pedoman dan pegangan hidup Orang Banda. Kajian ini menggunakan pendekatan hermeneutika untuk mengungkap fungsi dan makna dalam pantun sahur. Menurut Ricouer dalam Rafiek (2010), hermeneutika adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks (Rafiek, 2010: 42). Dalam kata lain, hermeneutika adalah suatu proses penguraian isi atau makna yang terpendam dalam suatu teks. Hermeneutika dianggap tepat untuk menelaah dan mengkaji secara mendalam makna yang tersirat dalam pantun sahur. Pantun sahur ditranskripsikan ke dalam teks dengan tetap memelihara makna dan tanpa mengubah arti yang terkandung di dalamnya. Penafsiran adalah suatu proses produksi, transformasi (perubahan bentuk), dan proses penguraian (Ratna, 2010: 316). Proses transformasi dan penguraian tersebut menggunakan bahasa di dalamnya. Kebenaran interpretasi teks atau data dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang tentang konsep, isi, budaya, dan sejarah. Teks tidak semata-mata diinterpretasikan hanya berdasarkan pengertian harfiah, namun melihat dan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal di luar teks tersebut.

TINJAUAN PUSTAKA

Sastra adalah institusi sosial yang menyajikan realitas kehidupan dan terdiri atas sebagian besar kenyataan-kenyataan sosial yang sangat berpengaruh pada kehidupan (Darman, 2014: 134). Sejalan dengan itu menurut Udin (1996;1) Sastra lisan adalah seperangkat pertunjukan penuturan lisan yang melibatkan penutur dan kalayak (audien) menurut tata cara dan tradisi pertunjukannya. Jadi sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturunkan turun temurun secara lisan (dari mulut ke mulut). Karena kebanyakan disebar dari mulut ke mulut maka sastra lisan juga disebut juga dengan sastra daerah. Marihandono (2015) menguraikan bahwa sejarah yang tersimpan dalam bukti lisan memiliki banyak manfaat, karena banyak peristiwa-peristiwa unik yang melekat di pikiran seseorang, sekelompok orang, atau bahkan masyarakat degan etnis tertentu yang tidak direkam dalam bukti tertulis. Oleh karena itu, berbagai bentuk peninggalan-peningglan leluhur dalam bentuk lisan harus dimanfaatkan dengan baik, karena menyimpan banyak nilai kearifan lokal yang sulit ditemukan di dalam bukti atau dokumen tertulis (Marihandono, 2015: 83—84).

Pantun mempunyai arti ucapan yang teratur, pengarahan yang mendidik. Pantun juga dapat berarti sindiran. Pantun sahur lahir dari masyarakat tradisional yang masih memegang teguh tradisi lisannya dengan arti ucapannya yang teratur, pengarahan yang mendidik, dan ada juga sindiran. Pantun sahur di bulan suci ramadan tidak terhitung jumlahnya. Setiap desa di Banda Neira memiliki beragam pantun sahur yang selalu menarik untuk dikaji karena menyimpan banyak nilai kehidupan. salah satu desa yang masih konsisten menjaga kelangsungan budaya adalah desa Lautang. Desa ini memiliki beberapa bentuk sastra lisan seperti pantun saor mitos, ritual adat, dan permainan rakyat. Pantun sahur termasuk dalam sastra daerah orang Banda yang merupakan bagian dari seni dan tradisi budaya orang Banda. Sebagian besar bentuk sastra di Maluku berupa puisi dan prosa rakyat, namun belum ditemukan secara pasti genre drama dan teater rakyat (Lewier, 2017: 16).

METODE

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif berupa uraian kata-kata tertulis atau lisan dari objek, orang, dan perilaku yang diamati (Moleong, 2012: 4). Waktu penelitian akan dilaksanakan selama 1 tahun untuk survey lapangan dan mengumpulkan data-data yang terkait dengan judul penelitian. Data yang diperoleh tersebut akan di-crosscheck dan disempurnakan. Lokasi penelitian terpusat di Desa Lautang, Kec Banda. Kabupaten Maluku Tengah. Data dalam penelitian ini adalah sastra lisan, yaitu pantun sahur. Sumber data penelitian adalah tetua kampung dan pemerintah desa Lautang dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, rekaman, dokumentasi, dan catatan lapangan. Pembahasan difokuskan pada isi atau makna yang terkandung dalam pantun sahur Banda Neira dengan menggunakan metode analisis isi dan menerapkan pendekatan hermeneutika. Dasar penafsiran dalam metode analisis isi memberikan perhatian pada isi pesan. Metode ini dilakukan untuk mengkaji atau melihat makna teks dalam bentuk paragraf, kalimat, dan kata (Ratna, 2013: 49). Sementara itu, pendekatan hermeneutika dimanfaatkan untuk penafsiran data atau isi dalam pantun sahur. Berikut dibawah ini analisis data model alir menurut Milles dan Huberman, 1992.

1. Pengumpulan Data

     Hal yang pertama kali dilakukan dalam pengumpulan data, yaitu peneliti melakukan observasi awal di lokasi penelitian dan sumber datanya dalam hal ii adalah orang tetua kampung Banda Neira. Setelah observasi kemudian mengidentifikasi pantun sahur yang termasuk dalam dalam sastra lisan .

2. Reduksi Data

     Pada langkah kedua ini, sesuai dengan pengertian reduksi data, yaitu proses pemilihan. Pemusatan perhatian pada penyederhanaan data maka dilakukanlah pemilihan antara teks yang terdapat sastra lisan banda neira.

3. Penyajian Data

Menganalisis dan mendiskripsikan arti dan makna pantun sahur dalam sastra lisan banda     neira.

4. Penarikan Kesimpulan

     Penyimpulan pantun sahur dalam sastra lisan Banda Neira. Bagaimanakah pantunnya dan arti serta makna yang terkandung dalam pantun sahur tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

          Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa dan kalimat dalam pantun sahur yang berasal dari sastra lisan yang dilantunkan oleh tetua kampung di desa Lautang Kec. Banda Kabupaten Maluku Tengah. Sastra lisan merupakan bagian dari tradisi lisan atau yang biasanya dikembangkan dalam kebudayaan lisan berupa pesan-pesan, cerita-cerita, kesaksian-kesaksian ataupun yang diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya. Salah satu bentuk sastra lisan Banda Neira yang ada di desa lautang ini adalah pantun atau yang lebih dikenal dengan pantun saor.

Secara umum desa Lautang termasuk dalam wilayah kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Desa Lautang yang berjarak ± 12 Km dari kantor Kecamatan di Negeri Nusantara waktu tempuh yang di butuhkan menuju ibu kota kecamatan di Nusantara adalah kurang lebih 120 menit Lewat jalur Laut dengan menggunakan motor laut atau piber (spead boat) , sedangkan waktu tempuh menuju ibu kota kabupaten Maluku Tengah di butuhkan kurang lebih 16 jam perjalanan  mengunakan angkutan kapal motor Pelni, kapal perintis maupun speed boat disamping itu juga bisa ditempuh dengan mengunakan pesawat terbang.

Desa Lautang Secara topografi berupa pegunungan dengan ketinggian antara 0 s.d 535 Meter di atas permukaan laut (dpl), sehingga tergolong dataran rendah. Rata-rata para petani di Negeri Lautang adalah petani tradisonal, yakni petani yang masih mengunakan alat-alat tradisonal dalam pekerjaannya, sehingga hasil yang diperoleh belum maksimal. Ditinjau dari jenis komonitas yang diusahakan, sistim usaha tani yang ada di Desa Lautang dibedakan menjadi dua, yaitu komunitas perkebunan tanaman pangan, seperti ubi kayu, ubijalar, jagung dan lain-lain. Komunitas kedua adalah perkebunan rakyat seperti pala, cengkih dan kenari. Selain usaha Pertanian dan pekebunan ada juga usaha perikanan yaitu nelayan tradisonal, yakni nelayan yang masih mengunakan alat-alat tradisonal dalam pekerjaannya sehingga hasil yang diperoleh belum maksimal.

Masyarakat desa Lautang menggunakan bahasa daerah melayu Banda Neira dalam komunikasi sehari-hari. Adapun satu diantara bentuk sastra daerah yang dapat ditemukan di Banda Neira adalah puisi (puisi lama) merupakan sastra lisan yang dibagi dalam beberapa bentuk yaitu; mantera, pantun, syair, dan gurindam. Salah satu jenis sastra yaitu pantun sahur. Sastra lisan pantun saor di desa Lautang sebagai sarana komunikasi yang digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan maksud secara lebih halus dan bahkan tidak secara langsung agar tidak menyinggung perasaan pendengar. Selain itu pantun saor ini berfungsi sebagai pendidikan dan hiburan karena pantun sahur berisi petuah dan nasihat. Selain pantun saor, masyarakat desa Lautang mempunyai beberapa kegiatan dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Adapun kegiatan yang sudah menjadi rutinitas setiap tahun ini adalah dimulai dengan pembersihan kampung dan TPU (tempat pemakaman umum), berbagi makanan buka puasa antar tetangga atau dengan orang-orang tidak mampu, sebelum sholat taraweh ada ceramah singkat yang diisi oleh pengurus mesjid, setelah sholat taraweh ada pengajian (tadarus) di mesjid, masyarakat membawa makanan atau minuman seadannya di mesjid untuk orang-orang yang tadarus, hal ini berdasarkan jadwal yang sudah dibagi oleh pengurus mesjid dan terakhir melantunkan pantun saor saat tiba waktunya sahur. Pantun sahur ini dilantunkan oleh tetua kampung dengan suara yang merdu dan ketepatan rima serta iramanya yang tentunya faham isi dan makna yang terkandung dalam pantun sahur tersebut.

Berikut ini adalah hasil penelitian pantun sahur dalam sastra lisan di desa Lautang Kecamatan Banda, Maluku Tengah  :

Saoor… ya… muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

         1. Malang ini, malang salasa   (malam ini, malam selasa)

             Garuda turung makang  karaka ( burung garuda turun makan kepiting)

              Orang siapa tar  puasa  (orang siapa tidak puasa )

              Dia mati masuk naraka (dia mati masuk neraka)

Bagian I pada pantun sahur diatas terdapat beberapa kata yang menggunakan bahasa daerah Banda diantaranya adalah kata “malang” (malam), “salasa” (selasa), “turung” (turun), “makang” (makan), “karaka” (kepiting), “tar” singkatan dari “tarada” (tidak), “naraka” (neraka). Pantun pada bagian ini menjelaskan tentang waktu yaitu malam selasa, kemudian baris kedua menjelaskan tentang burung garuda yang turun makan kepiting, dalam bahasa Banda kepiting disebut dengan karaka.  Sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi dari pantun yaitu orang siapa tidak berpuasa  dia akan mati masuk neraka. Isi pantun ini menjelaskan  tentang suatu nasihat agar orang lain ikut berpuasa. Selain itu dalam lantunan pantun sahur tersebut secara tidak langsung membuat orang sadar dan menjadi teguran bagi orang yang tidak berpuasa. Hal ini sangat penting untuk diketahui karena berpuasa pada bulan Ramadahan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh umat muslim.

Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

       2. Disana gunung disini gunung

          Ditengah-tengah pulau Naira

         Kalo dosa su menggunug   ( kalau dosa telah menggunung)

         Ramadhanlah penawar obatnya

Adapun bahasa daerah Banda pada bagian 2 diatas terdapat pada baris ke tiga yaitu  kata “Kol” (kalau) dan “Su” ( telah/sudah) yang menjelakan tentang kalau dosa sudah menggunung sedangkan baris keempat adalah ramadanlah penawar obatnya. Pantun pada baris ketiga dan keempat ini merupakan isi pantun yang mengajak umat muslim yang  semasa hidupnya masih berbuat dosa maka bulan ramadhan merupakan obat atau penawar untuk menghapus dosa-dosa tersebut. Berpuasa di bulan ramadan melatih kesabaran karna harus menahan lapar dan dahaga sampai matahari tenggelam, selain itu berpuasa dapat melatih kesabaran dalam menahan amarah karna emosi yang berlebihan dapat menghilangkan kesabaran dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.  Oleh karena itu, pantun sahur ini sangat penting untuk kita ketahui dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

3. Orang puasa tar sambayang ( orang puasa tidak sholat)

    Umpama rumah tarada tiang ( umpama ruma tidak bertiang)

    Hari kiamat terlalu sayang

    Siksaan Allah malam dan siang

Pantun bagian ketiga diatas merupakan pantun nasehat yang mengingatkan kepada umat muslim agar selalu sholat di bulan puasa karena hari kiamat itu ada dan siksaan Allah malam dan siang.  Hal ini terlihat pada kutipan pantun di baris ke-3 dan 4 yang merupakan isi dari pada pantun tersebut yaitu ‘hari kiamat itu pasti ada dan siksaan Allah itu siang dan malam’. Adapun bahasa daerah Banda yang dapat ditemukan dalam pantun ini adalah kata “tar” atau “tarada” yang artinya tidak dan kata “sambahyang” yang seharusnya sembahyang atau sholat. Pantun ini bersifat nasehaT.

Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

4.  Setitik tinta menjadi noda

     Setitik salah menjadi dosa

      Bulan penuh barkat telah tiba (Bulan penuh berkah telah tiba)

      Ayoo talateng ibadah dibulang puasa (Mari telaten ibadah di bulan puasa)

Pada pantun bagian empat ini terdapat beberapa bahasa daerah Banda yaitu pada baris ketiga “Bulan penuh barkat telah tiba” kata “barkat” yang seharusnya berkah dan baris keempat “Ayoo talateng ibadah dibulang puasa”,  kata  “talateng” dan kata “bulang” seharusnya menjadi  telaten dan bulan. Pantun ini bersifat mengajak yang menerangkan kepada umat muslim bahwa bulan puasa akan tiba maka dari itu  sudah seharusnya umat muslim menyambutnya dengan hati yang suci dan harus lebih telaten beribadah. Masyarakat Banda pada umumnya sangat antusias dalam menyambut bulan suci ramadan. Hal ini terlihat pada beberapa rutinitas kegiatan  menyambut bulan ramadhan diantaranya adalah pembersihan lingkungan dan TPU, adanya pengajian bagi remaja mesjid, pembagian ta’jil dari rumah ke rumah,  dll.

Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

5. Sallatun minallah

   Waliullah didalam surga

    Orang mangaji menguji Allah ( Orang mengaji menguji Allah)

     Orang sambayang mengampun dosa ( Orang sholat mengampun dosa)

Pantun  bagian kelima  menjelaskan bahwa umat manusia mengaji itu sama seperti menguji kekuasaan Allah SWT sedangkan orang yang sembahyang juga bisa mengampun dosa. Hal ini terlihat pada kutipan pantun pada bait ke-3 dan 4 yang merupakan isi dari pada pantun ini ‘orang mengaji memuji Allah dan orang sambahyang mengampun dosa’. Pada kata “mangaji” yang seharusnya mengaji dan kata sambahyang yang berarti sholat atau sembahyang. Pantun ini merupakan sebuah pantun nasehat yang mengingatkan kepada umat muslim agar selalu beribadah supaya dosa yang telah diperbuat dapat dimpuni oleh Allah SWT.

  1.  Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

Puasa itu melatih diri

Selama bekerja 30 hari

Dalam sto taong hanya sto kali ( dalam setahun hanya sekali)

Katong karja di malam hari ( kita bekerja di malam hari)

Terdapat beberapa bahasa daerah Banda pada pantun diatas yaitu kata sto, taong dan katong. Kata sto artinya satu, kata taong berarti tahun dan kata katong adalah kami. Hal ini dapat dilihat pada bagian isi pantun tersebut dibaris ketiga dan keempat yang mencirikan pantun tersebut adalah pantun nasehat

Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

6. Bulang ramadhan bulang puasa  ( Bulan ramadan bulan puasa)

    30 hari musti  puasa ( 30 hari harus puasa)

    Manahan lapar deng dahaga ( menahan lapar dan dahaga)

    Hawa nafsu harus dijaga

Bagian pantun yang ketujuh ini  menjelaskan bahwa dibulan suci ramadhan  kita harus ‘manahan lapar deng dahaga,  hawa nafsu harus di jaga. Hal ini dpat dilihat pada kutipan pantun di baris ke-3 dan 4 yang merupakan isi dari pada pantun tersebut. Adapun bahasa daerah yang terdapat pada pantun bagian ini adalah kata “manahan” seharusnya jadi menahan, kata “deng” adalah singkatan dari kata  dengan.

Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

   7. Lemon manis tanaman Wati

      Asam buaya dibawah batu

      Ilmu apa membawa mati

       Ilmu sambayang 5 waktu ( ilmu sholat 5 waktu)

Pada pantun yang kedelapan menjelaskan bahwa ketika manusia  mati yang dibawa itu ilmu yang merupakan amal ibadah diantaranya sholat lima waktu. Hal ini terlihat pada kutipan pantun pada bait ke-3 dan 4 yang merupakan isi dari pantun ini ‘ilmu apa yang membawa mati dan ilmu sembahyang lima waktu’. Adapun bahasa daerah yang dpaat ditemukan dalam pantun ini terdapat pada kata “sambayang” yang berarti sholat atau sembahnyang.  

Saoor…ya…muslimin bangong saor (sahuur yaa muslimin bangun sahur)

     8. Pus  kurus mandi dipapan (kucing kurus mandi di papan)

         Papannya si kayu jati

         Badan kurus memang kurang makan

         Puasa penuh muslim sejati

Bagian  pantun yang kesembilan ini menjelaskan kepada umat muslim yang menjalankan puasa sampai penuh tidak kurang sedikit pun terkecuali keadaan yang tak memungkinkan dan tidak  perlu khawatir bahwa akan kurus jika tak makan karena puasa membuat kita sehat. Hal ini terlihat pada kutipan pantun bait ke-3 dan 4 pada puisi ini ‘badan kurus memang kurang makan dan puasa penuh muslim sejati’.Adapun bahasa daerah  Banda yang dapat ditemui dalam kutipan pantun ini adalah kata “pus” yang seharusnya menjadi kucing .

               Berdasarkan hasil analisis data pantun sahur dalam sastra lisan Banda Neira di desa Lautang dapat disimpiulkan bahwa pantun diatas adalah jenis pantun agama. Pantun Agama merupakan jenis pantun yang mengulas tentang dunia keagamaan. Isi dan pesan pantun biasanya seputar seruan ibadah, dakwah, keimanan, ketakwaan, dan sebagainya. Sebagaimana yang dikatakan Ulin Nuha Masruchin(2018) pantun agama mengandung maksud ajakan, larangan, dan peringatan bagi umat manusia. Oleh karena itu pantun sahur menjadi salah satu media komunikasi lisan yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banda.

KESIMPULAN                                                                                                 

Pantun sahur adalah salah satu bentuk sastra lisan masyarakat Desa Lautang di Banda Neira. Banda Neira adalah daerah yang tidak memiliki aksara sehingga sejarah-sejarah pada zaman dulu dikisahkan melalui sejarah lisan atau sejarah tutur. Pantun sahur yang  Pada umumnya hanya dikuasai oleh para tetua kampung. Pemanfaatan pantun sahur sebagai aset budaya masyarakat Banda terlihat belum maksimal. Padahal, aset budaya ini  dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banda dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber dan pembelajaran Bahasa Indonesia di setiap jenjang pendidikan di sekolah. Hal ini menjadi bentuk pewarisan dan transformasi budaya daerah atau budaya lokal Banda yang merupakan identitas dan jati diri daerah. 

Pantun sahur dalam hal ini menyimpan banyak nilai-nilai religi atau nilai pendidikan di dalamnya. Pantun sahur tersebut dapat dijadikan sumber penulisan sastra daerah yang terdapat di Banda Neira, sangat disayangkan jika tidak diketahui dan punah dimakan zaman. Oleh karena itu kajian ini menjadi salah satu bentuk pemeliharaan sumber sastra lisan Maluku khususnya di Banda Neira serta dapat digunakan sebagai referensi untuk kajian-kajian selanjutnya.  Mengkaji budaya daerah merupakan sebuah bentuk pewarisan untuk menjaga dan menghindari hilangnya identitas dan budaya orang Maluku yang sungguh sangat beragam bentuk serta jenisnya. 

DAFTAR PUSTAKA

Darman, F. 2014. Struktur dan Nilai Patriotisme dalam Legenda Dramatis Jejak Para Satria di Negeri Seribu Bukit, Morella. In Mariana (Ed.), Prosiding Bahasa  dan Sastra Melukis Harmoni (Hal. 131—153). Ambon: HISKI Komisariat Ambon.

Lewier, M. 2017. Pemertahanan Sastra Daerah Maluku di Era Otonomi Daerah  (Peluang dalam Kemajemukan: Menuju Sastra Kepulauan yang Harmoni). In Asrif (Ed.), Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra (Hal. 14—18).Ambon: Kantor Bahasa Maluku.

Marihandono, D. 2015. Memanfaatkan Karya Sastra Sebagai Sumber Sejarah. In Stella Rose (Ed.), Prosiding Sastra dan Solidaritas Bangsa (Hal. 81—91). Ambon: Kantor Bahasa Maluku

Moleong, J.2010.Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Yogyakarta: Rosdakarya.

Rafiek, M. 2010. Teori Sastra Kajian Teori dan Praktik. Bandung: Refika Aditama.

Ratna, K. N. (2010). Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, K. N. (2013). Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Masruchin, Ulin. N. (2018). Buku Pintar majas Pantun dan Puisi. Jakarta: Huta Publisher

Miles, B. Mathew dan Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP.

 


Keywords


Kata Kunci: pantun sahur, sastra lisan, banda neira

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.25157/literasi.v4i1.3086

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

jurnal literasiHasil gambar untuk garuda ristekSee the source image

___________________________________________________________________

View My Stats


        Lisensi Creative Commons

Jurnal Literasi at http://jurnal.unigal.ac.id/index.php/literasi is licensed under Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.