PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATEMATIKA PADA MODEL PEMBELAJARAN EXPLORATION, COMMUNICATION, CLARIFICATION BERBASIS TEORI VALSINER UNTUK MENINGKATKAN HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) MATEMATIKA

Yeni Heryani

Sari


Kemampuan berpikir matematis di Indonesia masih relatif rendah, siswa belum memiliki kemampuan menyelesaikan soal berbasis berpikir tingkat tinggi. Terdapat beberapa Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar matematika yang dapat dikembangkan untuk menggali soal HOTS, namun soal-soal tersebut biasanya lebih banyak menguji aspek memori yang kurang melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pengembangan bahan ajar pada model pembelajaran ECC berbasis teori Valsiner untuk meningkatkan Higher Order Thinking Skills, mengetahui kelayakan bahan ajar pada model pembelajaran ECC berbasis Teori Valsiner untuk meningkatkan Higher Order Thinking Skills, serta mengetahui efektivitas bahan ajar pada model pembelajaran ECC berbasis teori Valsiner untuk meningkatkan Higher Order Thinking Skills. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model Plomp. Teknik pengumpulan data melalui penyebaran angket dan pemberian tes. Instrumen yang digunakan yaitu lembar kelayakan bahan ajar, angket respon peserta didik, dan soal tes. Sumber data dalam penelitian ini terdiri daru dua ahli materi dan peserta didik. Hasil dari penelitian ini yaitu bahan ajar pada materi bangun ruang sisi datar. Berdasarkan penilaian ahli materi bahwa produk termasuk dalam kategori sangat layak yaitu 92%. Hasil uji coba , peserta didik memberikan respon yang positif dan menilai bahwa produk 85,3% dengan kategori sangat praktis. Hasil analisis data hipotesis diperoleh hasil bahwa bahan ajar efektif untuk digunakan pada kegiatan pembelajaran.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Agustina, R., & Setianingsih, R. (2017). The use of scaffolding to train students’ skills in solving pisa’s problem (programme internationale for student assessment) involving hots (higher order thinking skills). Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika: MATHEdunesa, 6(3), 47-52.

Suprijono, A. (2013). Cooperative learning teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pusaka Pelajar.

Alismail, H. A., & McGuire, P. (2015). 21st century standards and curriculu:current research and practice. Journal of Education and Practice, 6(6),150-154.

Apino, E., & Retnawati, H. (2017). Developing instructional design to improve mathematical higher order thinking skills of students. J. Phys.: Conf. Ser, 812, 1-7. doi:10.1088/1742-65968/812/1/012100.

Arifin, Z., & Retnawati, H. (2017). Pengembangan instrumen pengukur higher order thinking skills matematika peserta didik SMA kelas X. Pythagoras: Jurnal Pendidikan Matematika. 12(1), 98-108.

Arthur, Y. D., Owusu, E. K., Asiedu-addo, S. & Arhin, A. K. (2018). Connecting mathematics to real life problems a teaching quality that improves students’ mathematics interest. Journal of Research & Method in Education, 8(4), 65-71.

Blanton, M.L., Stylianou, D. A. & David, M. M. (2003). The nature of scaffolding undergraduate students’ transition to mathematical proof. In the proceeding of the 27th Annual meeting for the international Group for the Psychology of Mathematical Education. Honolulu, Hawai: University of Hawai.

Bahtiar, E. F. (2015). Penulisan bahan ajar. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Brookhart, S. M. (2010). How to assess higher-order thinking skills in your classroom. Virginia USA: ASCD Alexandria.

Budiman, A., & Jailani. (2014). Pengembangan instrumen asesmen higher order thinking skill (hots) pada mata pelajaran matematika smp kelas viii semester 1. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 1(2), 139-151.

Conklin, W. (2012). Higher-order thinking skills to develop 21st century learners. Huntingon Beach: Shell Educationl Publishing, Inc.

Direktorat Pembinaan SMA. (2017). Model pengembangan rpp. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.

Eliyasni, R., Kenedi, A. K., & Sayer, I. M. (2019). Blended learning and project based learning: the method to improve students’ higher order thinking skill (HOTS). Jurnal Iqra’: Kajian Ilmu, 4(2), 231-248.

Fitri, R. (2017). Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep pada materi persamaan lingkaran. JNPM (Jurnal Nasional Pendidikan Matematika), 1(2), 241-257. https://doi.org/10.33603/jnpm.v1i2.562

Fensham, P. J., & Bellocchi, A. (2013). Higher order thinking in chemistry curriculum and its assessment. Thinking Skills and Creativity, 10, 250-264. https://doi.org/10.1016/j.tsc.2013.06.003

Goos, M. (2013). Sociocultural perspectives in research on and with mathematics teachers: A zone theory approach. ZDM - International Journal on Mathematics Education, 45(4), 521–533. doi: 10.1007/s11858-012-0477-z.

Gunawan, I., & Palupi, A. R. (2012). Taksonomi Bloom—revisi ranah kognitif: kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran, dan penilaian. Premiere Educandum Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran, 2(2), 98-117.

Hasratuddin. 2015. Mengapa harus belajar matematika?. Medan: Perdana Publishing.

Henningsen, M., & Stein, M. K. (1997). Mathematical task and student cognition: classroom- based factors that support and inhibit high-level mathematical thinking and reasoning. Journal for Research in Mathematics Education, 28(5), 524-549.

Kamal, A, W. 2019. Analisis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal higher order thinking skill materi statistika pada siswa kelas xii ipa sman 1 Takalar. Skripsi. Makasar: UNISMUH.

Krathwohl, D. R. (2002). A revision of bloom's taxonomy: an overview – theory into practice,college of education, the ohio state university learning domains or bloom's taxonomy: the three types of learning, tersedia di www.nwlink.com/~donclark/hrd/bloom.html.

Kemendikbud, L. (2013). Lakip Kemendikbud 2013. Diambil kembali dari Litbang Kemdikbud - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/pdf/LAKIP-kemendikbud- 2013.pdf Kemdikbud. 2017. Panduan Penilaian HOTs. Jakarta: Diraktorat Guru dan Tenaga Kependidikan.

Kemendikbud. (2014). Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

King, F. J., Goodson, L. & Rohani, F. (2018). Higher order thinking skills: definition, teaching strategies, & assessment. Florida: A Publication of the Educational Services Program, Now Known as the Center for Advancement of Learning and Assessment, Florida.

Lestari, I. (2013). Pengembangan bahan ajar berbasis kompetensi. Padang: Akademia Permata.

Martin, E, A. (2012). Kamus sains. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahyubi, H. (2012). Teori-teori belajar dan aplikasi pembelajaran motorik. Majalengka: Referens.

Sagala, S. (2005). Konsep dan makna pembelajaran. Bandung. Alfabeta.

Shokouhi, M., & Shakouri, N. (2015). Towards a stage of proximity. Academic Research Journal, 3(2),

Susanto, E., & Retnawati, H. (2016). Perangkat pembelajaran matematika bercirikan PBL untuk mengembangkan HOTS peserta didik SMA. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 3(2), 189-197.

Trianto. (2011). Model pembelajaran terpadu konsep strategi dan implementasinya dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Thompson, T. (2008). Mathematics teachers’ interpretation of higher-order thinking in Bloom’s Taxonomy. International Electronic Journal of Mathematics Education, 3(2), 1-14.

Thomas, A., & Thorne, G. (2009). How to increase higher level thinking. Center For Development and Learning.

Wibowo, D. (2016). Penerapan higher order thinking skills (HOTS) dalam pembelajaran. Jurnal Pendidikan, 21(2), 123-135.

Zukhaira, & A. Hasyim, M. Y. (2014). Penyusunan bahan ajar pengayaan berdasarkan kurikulum 2013 dan pendidikan karakter bahasa arab madrasah ibtidaiyah. Jurnal Penerapan Teknologi dan Pembelajaran, 12(1), 1-90.




DOI: http://dx.doi.org/10.25157/teorema.v8i1.9536

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

Laman Teorema: https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/teorema/index

Terindek: