FENOMENA GELANDANGAN PENGEMIS SEBAGAI DAMPAK DISPARITAS PEMBANGUNAN KAWASAN URBAN DAN RURAL DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Hendy Setiawan

Sari


 Pesatnya pembangunan di kawasan urban menjadi daya pikat bagi kaum di luar urban untuk mengadu nasib. Hal ini dikarenakan kawasan urban sebagai pusat ekonomi yang besar. Akibatnya terjadi urbanisasi secara masif dari area rural ke area urban tanpa didukung kapasitas yang memadai. Munculnya fenomena pengemis di perkotaan menjadi salah satu implikasi dari persoalan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalh untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadikan kawasan urban menjadi daya pikat akan gelandangan dan pengemis di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa berdasarkan studi di lapangan lebih dari 70% gelandangan pengemis yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini diimplikasikan dengan meningkatnya trend Yogyakarta sebagai kota yang pesat pembangunanya, juga dari sisi ekonomi menjadi pusatnya. Oleh karena itu, dengan modal pembangunan ekonomi yang besar menjadi alasan gelandangan pengemis untuk mendapatkan keuntungan di Daerah Istimewa Yogyakarta.  

Kata Kunci


Gelandangan Pengemis, Kawasan Urban, Pembangunan Kota

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Adam, F. P. (2010). Tren urbanisasi di Indonesia.

Ahmad, M. (2012). Strategi Kelangsungan Hidup Gelandangan-Pengemis (Gepeng). Jurnal Penelitian, 7(2).

Ekawati, N. N. (2014). Kajian Dampak Pengembangan Pembangunan Kota Malang Terhadap Kemacetan Lalu Lintas (Studi pada Dinas Perhubungan Kota Malang). Jurnal Administrasi Publik, 2(1), 129-133.

Fadli, L. (2008). Keterkaitan antara Kemiskinan Perkotaan dengan Kesehatan Lingkungan di Wilayah Kabupaten Tegal (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro)

Harahap, R., & Sos, S. (2013). Dampak urbanisasi bagi perkembangan kota di Indonesia. Jurnal Society UBB, 1(1).

Haryono, T. J. S. (1999). Dampak Urbanisasi Terhadap Masyarakat di Daerah Asal. Masyarakat, Kebud. dan Polo, 12(4), 67-78.

Iqbali, S. (2006). Studi Kasus Gelandangan–Pengemis (Gepeng) Di Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem. Piramida.

Mambang, M., & Harry, W. F. (2016). Implementasi kebijakan Gelandangan, Pengemis, Tuna Susial Dan Anak Jalanan Kota Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah. Pencerah Publik, 3(2), 1-8.

Piramida. Muslim, M. (2013). PenanggulanganPengemis dan gelandangan Di Kota Pekanbaru. Jurnal El-Riyazah, 4(1), 24-35.

Pospos, A. F. F. (2017). FenomenaPengemis Di Kota Langsa. Jurnal Investasi Islam, 2(2), 97-112.

Pratama, Y. S. (2017). Perancangan Interior Tempat Edukasi Gelandangan dan Pengemis di Surabaya. Intra, 5(2), 313-321.

Riskawati Isma, Abdul Syani .(2012). Faktor Penyebab Terjadinya Gelandangan Dan Pengemis (Studi Pada Gelandangan Dan Pengemis Di Kecamatan Tanjung Karang Pusat Kota Bandar Lampung), Jurnal Sociologie, Vol. 1, No. 1: 43-5

Saputra, H., & Rahayu, S. (2015). Hubungan Tingkat Urbanisasi Dan Tingkat Ketimpangan Wilayah Di Daerah Pantura Jawa Tengah. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 4(4), 737-752.

Saputro, A. (2011). Pengaruh persepsi tentang gepeng (gelandang dan pengemis) terhadap pengambilan keputusan memberi uang kpada gepeng.

Sartika, C., Balaka, M. Y., & Rumbia, W. A. (2016). Studi Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan Masyarakat Desa Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna. Jurnal Ekonomi Uho, 1(1).

Yatim, Y., & Juliardi, B. (2016). Studi Gender Jaringan Sosial Pengemis Anak Perempuan Di Kota Bukittinggi. Kafaah Journal of Gender Studies, 6(2), 201-214.




DOI: http://dx.doi.org/10.25157/moderat.v6i2.3218

Refbacks



##submission.license.cc.by4.footer##

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.